Create your blog and photo album with postbit
Create your blog and photo album

Create new post

Content:

Upload a picture:
Tags (keywords separated by comma)

Save Cancel
melchiorsenwhite88:   Followers: 0 ; Following: 0


Penjelasan Aqiqah Menurut Agama Islam



Dari sisi bahasa ‘Aqiqah artinya: mengotes. Asalnya dinamakan ‘Aqiqah, sebab dipotongnya sosial binatang dengan penyembelihan tersebut. Ada yang mengatakan bahwa aqiqah merupakan nama untuk hewan yang disembelih, disebut demikian sebab lehernya dipotong Ada lagi yang menyebarkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Serabut yang tersembunyi pada oknum si momongan ketika ia keluar atas rahim embuk, rambut ini disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah merupakan penyembelihan domba/kambing untuk bayi yang dilahirkan pada hari ke tujuh, 14, ataupun 21. Jumlahnya 2 ekor untuk bayi laki-laki serta 1 sudut untuk balita perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Atas Samurah bin Jundab dia berkata: Rasulullah bersabda: “Semua anak balita tergadaikan secara aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Atas Aisyah dia berkata: Rasulullah bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan 2 kambing yang sama dan budak perempuan satu kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak itu tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih fauna untuknya dalam hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Mulai Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata: Rasululloh bersabda: “Aqiqah dijalankan karena kelahiran bayi, oleh karena itu sembelihlah satwa dan hilangkanlah semua seloroh darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Mulai ‘Amr bin Syu’aib daripada ayahnya, mulai kakeknya, Nabi bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah ber ‘aqiqah untuk Laksmi dan Husain pada hari ke-7 daripada kelahirannya, beliau memberi sebutan dan mengarahkan supaya dihilangkan kotoran dari kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, dalam AI-Mustadrak surah 4, sesuatu. 264]

Keterangan: Hasan & Husain ialah cucu Rasulullah SAW.

Atas Fatimah binti Muhammad pada melahirkan Rancak, dia berkata: Rasulullah menitahkan: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan galuh kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, serta al-Baihaqi]

Daripada Abu Buraidah r. a.: Aqiqah tersebut disembelih pada hari ketujuh, atau keempat belas, atau kedua puluh satunya. (HR Baihaqi dan Thabrani).

Hukum Aqiqah Bani adalah sunnah (muakkad) setara pendapat Kepala Malik, warga Madinah, Imam Syafi'i dan sahabat-sahabatnya, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan kebanyakan ulama ulung fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai oleh kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai substansi yang sunnah muakkadah merupakan hadist Rasul SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai secara aqiqahnya. Disembelihkan untuknya dalam hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama bani ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan siram darinya telau (Maksudnya potong rambut rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Titik lidah: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah komando, namun tak bersifat wajib, karena terselip sabdanya yang memalingkan dari kewajiban ialah: “Barangsiapa di antara kalian tersedia yang ingin menyembelihkan untuk anak-nya, oleh sebab itu silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Bubuk Dawud serta An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan kaidah yang menggerakkan perintah yang pada dasarnya tentu menjadi sunnah.

Imam Malik berkata: Aqiqah itu diantaranya layaknya nusuk (sembeliah kompensasi larangan haji) dan udhhiyah (kurban), gak boleh di aqiqah itu hewan yang picak, mersik, patah urat, dan pedih. Imam Asy-Syafi’iy berkata: & harus dihindari dalam satwa aqiqah ini cacat-cacat yang tidak diperbolehkan di dalam qurban.

Buraidah berkata: Lalu kami di masa jahiliyah apabila khilaf seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih wedus dan melumuri kepalanya beserta darah wedus itu. Dipastikan setelah Allah mendatangkan Agama islam, kami menyembelih kambing, mencukur (menggundul) oknum si budak dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Duli Dawud juz 3, sesuatu. 107]

Daripada ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang pada masa jahiliyah apabila itu ber’aqiqah untuk seorang bayi, mereka mengotori kapas beserta darah ‘aqiqah, lalu pada mencukur serabut si bayi mereka melumurkan pada kepalanya”. Maka Nabi SAW berfirman, “Gantilah kebiasaan itu secara minyak wangi”.[HR. Putri Hibban beserta tartib Rumpun Balban bab 12, hal. 124]

Menunaikan aqiqah pikir kesepakatan karet ulama ialah hari ketujuh dari kemunculan. Hal berikut berdasarkan hadits Samirah dalam mana Rasul SAW berfirman, “Seorang budak terikat dengan aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh dan diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan tidak bisa dijalankan pada hari ketujuh, ia bisa dijalankan pada hari ke-14. Meski tidak pula, maka di hari ke-21 atau bilamana saja ia mampu. Kepala Malik mengatakan: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke tujuh (tujuh) buat dasar permintaan, maka takut-takut menyembelih di dalam hari ke 4 (empat) ke 8 (delapan), di 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah ini telah sempurna. Karena prinsip ajaran Islam adalah memudahkan bukan mengalutkan sebagaimana nasihat Allah SWT: “Allah mengkhayalkan kemudahan bagimu dan bukan menghendaki kesukaran bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Pelaksanaan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kelahiran, ini menurut sabda Nabi SAW, yang artinya: “Setiap anak itu tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, & diberi nama. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, dan dishahihkan sebab At Tirmidzi)

Dan jika tidak dapat melaksanakannya saat hari ketujuh, maka bisa dilaksanakan dalam hari ke empat belas, dan jikalau tidak dapat, maka di dalam hari ke dua persepuluhan satu, ini berdasarkan hadits Abdullah Pelerai demam Buraidah mulai ayahnya mulai Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau berkata yang artinya: “Hewan aqiqah tersebut disembelih saat hari ketujuh, ke empat belas, serta ke 2 puluh tunggal. ” (Hadits hasan babad Al Baihaqiy)

Namun setelah tiga ahad masih gak mampu maka kapan saja pelaksanaannya dalam kala sudah mampu, karena pelaksanaan di dalam hari-hari di tujuh, di empat belas kasihan dan ke dua puluh satu merupakan sifatnya sunnah dan paling utama tidak wajib. Serta boleh pula melaksanakannya pra hari di tujuh.

Momongan yang musnah dunia sebelum hari ketujuh disunnahkan pula untuk disembelihkan aqiqahnya, apalagi meskipun budak yang keluron dengan ukuran sudah berusia empat kalendar di dalam isi ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada rama si balita. Namun jika seseorang yang belum di sembelihkan satwa aqiqah sambil orang tuanya hingga ia besar, maka dia mampu menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan berkata: Dan jikalau tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri dipastikan hal tersebut tidak apa-apa menurut saya, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh dari kemunculan. Jika gak bisa, maka pada hari keempat belas. Dan jika bukan bisa agaknya, maka pada hari ke-2 puluh wahid. Selain itu, pelaksanaan aqiqah menjadi bagasi ayah.

Tapi demikian, jika ternyata ketika kecil ia belum diaqiqahi, ia mampu melakukan aqiqah sendiri dalam saat mantap. Satu begitu al-Maimuni bertanya kepada Kepala Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah pada besar ia boleh mengaqiqahi dirinya sendiri? ” Kepala Ahmad menjawab, “Menurutku, apabila ia belum diaqiqahi ketika kecil, oleh sebab itu lebih baik melakukannya sendiri saat mantap. Aku bukan menganggapnya makruh”.

Para pengikut Imam Syafi’i juga berpendapat demikian. Dari segi mereka, anak-anak yang telah dewasa yang belum diaqiqahi oleh orang-orang tuanya, disarankan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Nominal Hewan

Banyak hewan aqiqah minimal ialah satu sudut baik untuk laki-laki atau pun untuk perempuan, sesuai perkataan Putri Abbas ra: “Sesungguh-nya Nabi SAW mengaqiqahi Hasan serta Husain mono domba mono domba. ” (Hadits shahih riwayat Bubuk Dawud dan Ibnu Al Jarud)

Aku harus tegak bahwa Patut dan Husain adalah bujang kembar. Jadi pada mono kelahiran itu disembelih dua ekor kibas.

Namun yang lebih tertinggi adalah 2 ekor untuk anak laki-laki & 1 kontrol untuk budak perempuan berdasar pada hadits-hadits dibawah ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW menitahkan agar dsembelihkan aqiqah mulai anak laki-laki dua ekor kambing dan mulai anak dara satu upaya. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad & Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra mengatakan, yang memiliki arti: “Nabi SAW memerintahkan itu agar disembelihkan aqiqah mulai anak laki-laki dua ekor domba yang cocok dan daripada anak dara satu ekor. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan beserta ‘aqiqah

Yang berhubungan beserta sang anak

1. Disunnatkan untuk menyampaikan nama serta mencukur serabut (menggundul) saat hari ke-7 sejak hari iahirnya. Contohnya lahir saat hari Esa, ‘aqiqahnya jatuh pada hari Sabtu.

dua. Bagi anak laki-laki disunnatkan ber’aqiqah dengan 2 ekor kambing sedang untuk anak dara 1 kontrol.

3. ‘Aqiqah ini bahkan dibebankan kepada orang tua si anak, tetapi boleh juga dilakukan per keluarga lainnya (kakek serta sebagainya).

4. Aqiqah itu hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Bagus Mentah / Dimasak

Dianjurkan agar dagingnya diberikan pada kondisi sungguh dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya dua ekor kambing untuk bani dan tunggal ekor kibas untuk bujang perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Ketuat aqiqah dikasih kepada tetangga dan fakir miskin pula bisa diberikan kepada sosok non-muslim. Apalagi jika sesuatu itu dimaksudkan untuk menarik simpatinya serta dalam rangka dakwah. Dalilnya adalah panduan Allah, “Mereka memberi mencopet orang miskin, anak yatim, dan terpidana, dengan sikap senang”. (QS. Al-Insan: 8). informasi selanjutnya Menurut Ibn Qudâmah, tawanan pada tatkala itu adalah orang-orang membelot. Namun demikian, keluarga pula boleh memakan sebagiannya.

Yang berhubungan dengan binatang sembelihan

1. Dalam masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kambing, tanpa memandang apakah megak atau perempuan, sebagaimana sejarah di bawah ini:

Dari Ummu Kurz AI-Ka’biyah, sebenarnya ia sempat bertanya mendapatkan Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka sabda beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki 2 ekor kibas dan untuk anak perempuan satu ekor kambing. Bukan menyusahkanmu bagus kambing ini jantan mau pun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, dalam Nailul Authar 5: 149]

Dan kami belum memperoleh dalil lainnya yang menampilkan adanya binatang selain kambing yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Tenggat yang dituntunkan oleh Rasul SAW berdasarkan dalil yang shahih ialah pada hari ke-7 dari kelahiran anak tersebut. [Lihat saksi dusta riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian daging Aqiqah

Mengenai dagingnya oleh sebab itu dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan beberapa dagingnya, dan mensedekahkan sebagian lagi. Syaikh Utsaimin berkata: Dan gak apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menyisihkan kerabat dan tetangga untuk menyantap santapan daging aqiqah yang sudah biasa matang. Syaikh Jibrin berkata: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga sedang kepada umat islam, dan boleh mengundang sohib2 dan suku untuk menyantapnya, atau mampu juga dia mensedekahkan seluruhnya. Syaikh Putra Bazz mengatakan: Dan engkau bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya / sebagiannya & memasaknya kemudian mengundang sosok yang tuan lihat gesit diundang dari kalangan nenek, tetangga, sobat-sobat seiman & sebagian orang-orang faqir untuk menyantapnya, dan hal serupa dikatakan sebab Ulama-ulama yang terhimpun dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Bani

Tidak diragukan lagi kalau ada sangkut paut antara makna sebuah identitas dengan yang diberi sebutan. Hal tersebut ditunjukan secara adanya sejumlah nash syari yang menyarankan hal itu.

Dari Duli Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Yang mahakuasa mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 serta Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang menghiraukan sunah, ia akan memperoleh bahwa makna-makna yang terkandung dalam pamor berkaitan dengannya sehingga serasa makna-makna itu diambil darinya dan seakan-akan nama-nama tersebut diambil mulai makna-maknanya”. Meski anda ingin mengetahui akibat nama-nama tentang yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits pada bawah ini:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Awak datang terhadap Nabi SAW, beliau pun bertanya: “Siapa namamu? ” Aku menjawab: “Hazin” Nabi berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama rezeki bapakku” Putra Al-Musayyib berkata: “Orang itu senantiasa sok keras tentang kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, pemberian nama yang bagus untuk anak-anak menjadi salah satu kewajiban pengampu. Di antara nama-nama yang baik yang layak diberikan merupakan nama nabi penghulu zaman yaitu Muhammad. Sebagaimana ceramah beliau: Dari Jabir Ra dari Rasul SAW sira bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau mempergunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Orang islam 2133)

Untuk mengetahui jalan pemberian nama yang baik dari sisi ajaran Islam, silahkan kelompok:

Memberi Seri Bayi atau Anak Berdasar pada Islami


Memotong Rambut

Mencukur rambut adalah anjuran Nabi yang super baik untuk dilaksanakan saat anak yang baru real pada hari ketujuh.

Di hadits Samirah disebutkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak terjepit dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi seri, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Kepala Malik menceritakan bahwa Fatimah menimbang bobot rambut Patut dan Husein lalu sira menyedekahkan galuh seberat sabut tersebut.

Tiada ketentuan apakah harus digundul atau tidak. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut kudu dilakukan secara rata; tidak boleh seharga mencukur beberapa kepala serta sebagian yang lain dibiarkan. Pasti lah semakin banyak rambut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- tambah besar lagi sedekahnya.

Doa Menyembelih Fauna Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Berarti: Dengan pamor Allah, sungguh Allah terimalah (kurban) atas Muhammad serta keluarga Muhammad serta atas ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud)

Doa momongan baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Mempunyai: Aku berlindung untuk anak ini secara kalimat Allah Yang Baik dari seluruh gangguan syaitan dan huru-hara binatang beserta gangguan sorotan mata yang dapat menjinjing akibat jorok bagi apa pun yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Pikir Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Agama islam sebagaimana dilansir di 1 buah situs punya beberapa hikmah diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW di meneladani Nabiyyullah Ibrahim USA tatkala Tuhan SWT menyelesaikan putra Ibrahim yang tercinta Ismail USA.

2. Di aqiqah tersebut mengandung bagian perlindungan mulai syaitan yang dapat mengocok anak yang terlahir itu, dan tersebut sesuai secara makna hadits, yang mempunyai: “Setiap anak itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Maka itu Anak yang sudah ditunaikan aqiqahnya insya Tuhan lebih terlindung dari sindiran syaithan yang sering meranyau anak-anak. Sesuatu inilah yang dimaksud oleh Al Imam Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai sebab aqiqahnya”.

3. Aqiqah merupakan tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya kelak dalam hari rekapitulas. Sebagaimana Kepala Ahmad mengatakan: “Dia tergadai dari menurunkan Syafaat bagi kedua orang2 tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan susunan taqarrub (pendekatan diri) menurut Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus serupa wujud mengecap syukur untuk karunia yang dianugerahkan Tuhan Subhanahu wa Ta’ala beserta lahirnya sang anak.

5. Aqiqah guna sarana menimbulkan rasa ribut dalam melakukan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukminat yang dengan memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah menegakkan ukhuwah (persaudaraan) diantara masyarakat.

Dan masih banyak juga hikmah yang terkandung dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah ini.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Serbuk Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin serta diringkas kembali dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Serbuk Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Manjapada al-Bustoni, beserta judul “Aqiqah” terbitan Titian Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Post by melchiorsenwhite88 (2017-01-12 20:43)

Post your comment:

Name: Email: Site:


| Explore users | New posts | Create your blog | Create your photo album |
| About Postbit | Our blog | Terms of use | Contact Postbit |


Copyright © 2018 - postbit.com